JAKARTA – Konflik di Timur Tengah terus menjadi sorotan dunia, terutama ketegangan yang melibatkan negara-negara adidaya dan proksi-proksinya. Dalam salah satu episode podcast di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, pendakwah kondang, Ustaz Felix Siauw, diundang untuk mengupas tuntas polemik geopolitik internasional yang sedang memanas, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Perbincangan ini dimulai dengan menyinggung narasi yang dimainkan oleh pihak Barat mengenai ketegangan di Iran. Apakah ini semata-mata soal sentimen agama, atau ada agenda terselubung yang jauh lebih besar?

Bukan Perang Agama, Melainkan Perang Proksi dan Motif Ekonomi
Menurut Ustaz Felix, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah saat ini, terutama upaya untuk melumpuhkan stabilitas Iran, tidak bisa dilihat secara mutlak dari kacamata "perang agama". Ia berpandangan bahwa Israel memiliki impian masa lalu untuk merebut dominasi penuh di kawasan tersebut (konsep The Greater Israel).
"Jika Israel ingin menjadi penguasa tunggal, satu-satunya negara di wilayah itu yang menjadi penghalang besar saat ini adalah Iran. Irak dan Suriah sudah selesai (lumpuh). Jadi, Iran harus disingkirkan," jelas Ustaz Felix. Ia juga menambahkan bahwa sentimen ini didukung kuat oleh Amerika Serikat sejak awal untuk membenarkan tindakan perluasan pengaruh Barat (Western Expansion).
Di samping itu, faktor penguasaan sumber daya alam dan energi (terutama minyak) terus menjadi motif utama yang bersembunyi di balik gaung "membawa perdamaian". AS sering menggunakan narasi ketakutan terhadap ancaman ekspansi ekonomi China untuk membenarkan tindakan campur tangan mereka di negara lain.
"Amerika Serikat melihat Iran sebagai proksi kekuatan Timur. Menghancurkan Iran dan sekutu-sekutunya juga berarti AS dapat menghambat perkembangan China dan Rusia yang semakin masif," kata Ustaz Felix.
Kemunafikan Narasi Perdamaian Barat
Dalam obrolannya bersama Helmy Yahya, Ustaz Felix juga menyinggung tentang kemunafikan (hipokrisi) Amerika Serikat. AS selalu menampilkan diri mereka sebagai "pahlawan pembawa perdamaian" (nahnu muslihun), tetapi realitasnya, kebijakan luar negeri yang diterapkan justru sering kali merusak stabilitas politik dan keamanan di berbagai negara.
Sejarah telah mencatat bahwa kehancuran besar-besaran sering kali terjadi akibat campur tangan negara-negara adidaya ini, baik karena motif perebutan ekonomi maupun manuver geopolitik.
Tanda Akhir Zaman dan Ramalan Masa Depan Timur Tengah
Lebih jauh, isu geopolitik ini juga dikaitkan dengan hadis tentang akhir zaman. Ustaz Felix mengungkapkan adanya riwayat yang menyebut tentang kebangkitan Dajjal kelak akan diikuti oleh 70.000 kaum Yahudi dari Isfahan, yaitu sebuah kota yang terletak di Iran.
"Mungkin kita sebelumnya bingung bagaimana hal ini bisa terjadi. Tetapi, baru-baru ini ada berita beredar yang menyatakan Israel berencana mengerahkan puluhan ribu orangnya untuk mengambil alih kawasan di Iran. Apakah ini hanya sekadar cocoklogi atau sebuah kebenaran yang akan segera terjadi?" ujar Ustaz Felix memunculkan pertanyaan yang mengundang rasa waswas.
Walaupun demikian, analisis geopolitik saat ini menunjukkan skenario terburuk bahwa Israel mungkin akan menjadi penguasa dominan tunggal di Timur Tengah jika Iran berhasil dilumpuhkan sepenuhnya. Namun, Iran tidak tinggal diam; pengganti kepemimpinan tertinggi Iran dikabarkan telah dipersiapkan dan dirahasiakan untuk memastikan keberlanjutan perlawanan mereka.
Kepemimpinan, Ideologi, dan Kemandirian Sebuah Bangsa
Di akhir percakapan, Helmy Yahya dan Ustaz Felix sepakat bahwa agar sebuah negara mampu bangkit dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata dunia (seperti kebangkitan China saat ini), diperlukan gabungan dua elemen esensial: ideologi yang kokoh dan pemimpin yang berwibawa.
Sistem negara yang baik sekalipun akan hancur jika tidak ada sosok pemimpin tangguh yang mampu menerjemahkan ideologi tersebut menjadi tindakan nyata demi kesejahteraan rakyatnya.
"Sistem itu penting, tetapi butuh pelakunya. Ibarat salat berjemaah, walaupun aturan (rukun)-nya sudah lengkap dan sempurna, tetap butuh seorang imam yang baik untuk memimpin saf agar rapi dan teratur," simpul Ustaz Felix mengakhiri penjelasannya.
Comments