Iran Ungkap Alasan Perundingan Nuklir dengan AS Kembali Menemui Jalan Buntu

TEHERAN – Pemerintah Iran akhirnya buka suara terkait mandeknya putaran terbaru perundingan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Oman pekan ini. Teheran menyebut "ketidakkonsistenan" Washington sebagai faktor utama gagalnya kesepakatan tercapai.


​Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa meskipun draf perjanjian sudah berada di atas meja, tuntutan baru yang diajukan pihak AS di menit-menit terakhir telah merusak kemajuan yang telah dicapai selama berbulan-bulan.

​Fokus pada Pencabutan Sanksi

​Pihak Iran menegaskan bahwa titik tekan mereka tetap pada jaminan ekonomi yang konkret. Teheran menuduh pemerintahan AS saat ini masih terjebak dalam pola pikir "tekanan maksimum" yang diwariskan era sebelumnya.



​"Kami masuk ke ruang perundingan dengan niat baik dan rencana yang jelas. Namun, kami tidak bisa menerima kesepakatan yang tidak menjamin pencabutan sanksi secara penuh dan terverifikasi," ujar pejabat senior tersebut dalam konferensi pers di Teheran, Minggu (12/4/2026).


​Poin-Poin Utama Penyebab Kebuntuan

​Berdasarkan keterangan resmi otoritas Iran, terdapat tiga isu krusial yang membuat dialog tersebut gagal mencapai titik temu:

  • Jaminan Hukum: Iran menuntut jaminan bahwa AS tidak akan keluar dari perjanjian secara sepihak di masa depan, sebuah kekhawatiran yang muncul sejak penarikan diri AS pada 2018.
  • Investigasi IAEA: Teheran mendesak penutupan berkas penyelidikan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) terkait jejak uranium di situs-situs yang tidak dideklarasikan.
  • Akses Perbankan Global: Iran menginginkan kepastian bahwa mereka dapat mengakses sistem keuangan internasional tanpa hambatan tersembunyi dari sanksi sekunder AS.

​Respons AS dan Eskalasi Regional

​Di sisi lain, Gedung Putih memberikan sinyal bahwa bola kini berada di tangan Iran. Washington bersikeras bahwa tuntutan Iran "di luar cakupan" kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) yang coba dipulihkan.

​Para analis menilai kegagalan ini meningkatkan tensi di Timur Tengah, terutama setelah adanya laporan peningkatan pengayaan uranium oleh Iran yang kini disebut mendekati ambang batas senjata.

​Dampak Ekonomi

​Gagalnya kesepakatan ini langsung berimbas pada volatilitas pasar energi global. Harga minyak mentah sempat mengalami kenaikan tipis karena kekhawatiran akan pasokan dari Teluk Persia jika ketegangan militer meningkat.

​Hingga berita ini diturunkan, Uni Eropa selaku fasilitator perundingan masih berupaya menjembatani komunikasi kedua belah pihak agar dialog tidak terhenti sepenuhnya.