TEHERAN – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Pemerintah Iran secara terang-terangan mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS), mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal militer Washington jika terus berupaya melakukan blokade dan "menjadi polisi" di kawasan strategis Selat Hormuz.
Pernyataan provokatif ini disampaikan langsung oleh Mohsen Rezaei, Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melalui televisi pemerintah pada Rabu (15/4/2026). Rezaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam melihat kehadiran militer AS yang dianggap mengganggu kedaulatan wilayah tersebut.
"Kapal Anda Akan Ditenggelamkan"
Dalam pernyataannya, Rezaei mengkritik keras kebijakan Presiden AS (Donald Trump) yang memerintahkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia menilai tindakan AS tersebut sebagai bentuk arogansi yang membahayakan keamanan internasional.
"Trump ingin menjadi polisi di Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?" cetus Rezaei.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan mematikan terkait kemampuan rudal Iran. "Kapal-kapal Anda akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami. Mereka (militer AS) benar-benar berada dalam jangkauan target dan kami dapat menghancurkannya kapan saja," tambahnya.
Gagalnya Perundingan Islamabad
Ancaman ini muncul setelah upaya diplomasi di Islamabad, Pakistan, menemui jalan buntu pada 11 April 2026. Perundingan antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan karena Iran menolak syarat ketat dari AS, yang mencakup penghentian total program uranium dan pembukaan akses penuh di Selat Hormuz.
Sebagai respons atas kegagalan tersebut, AS menerapkan blokade militer yang melumpuhkan aktivitas perdagangan maritim di pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Dampaknya, ekonomi Iran dilaporkan mulai tercekik karena ketergantungan besar pada jalur perdagangan laut.
Skenario Perang dan Gencatan Senjata
Situasi semakin genting menyusul pernyataan pribadi Rezaei yang menyatakan tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata. Ia bahkan secara satir menyebut bahwa invasi darat oleh AS justru akan "menguntungkan" Iran karena pasukannya siap menyandera ribuan personel lawan demi imbalan besar.
Di sisi lain, blokade AS telah memicu reaksi global. Banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya lonjakan harga minyak dunia (oil shock), mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang melayani seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz tetap dalam status siaga tinggi. Kehadiran armada perang dari kedua belah pihak di perairan yang sempit tersebut meningkatkan risiko kontak senjata yang dapat memicu perang skala besar di kawasan tersebut.
